Mengapa kaum muslimin terhina hari ini?
April 13th, 2007 by armen99Saudara-saudariku
yang tercinta!
Kita
semua menamakan diri seorang Muslim, dan kita yakin Allah melimpahkan rahmatNya
kepada orang-orang Muslim. Tetapi marilah kita buka mata kita dan melihat
apakah rahmat Allah dilimpahkan kepada kita atau tidak? Kita kaum Muslimin di
Indonesia ini berjumlah 200 juta orang, jumlah kita demikian besar sehingga
bila masing-masing kita melemparkan sebuah batu, maka onggokan batu itu akan
menjadi sebuah gunung.
Tetapi
di negeri yang begitu banyak orang-orang Muslimnya ini, pemerintahan kita
berada di tangan orang-orang sekuler.
Tengkuk kita berada dalam cengkraman tangan mereka, dan mereka memutar kepala
kita ke arah mana saja yang mereka sukai. Padahal seharusnya kepala kita tidak kita
tundukkan di depan siapa pun juga kecuali Allah, tetapi sekarang kita tunduk di
hadapan manusia-manusia yang sama seperti kita juga. Kehormatan kita yang
semestinya tidak boleh dinodai oleh siapa pun juga, sekarang diinjak-injak.
Tangan kita yang selama ini selalu di atas sekarang berada di bawah dan menengadah
di hadapan mereka. Kebodohan, kemiskinan dan hutang telah merendahkan derajat kita
di mana-mana.
Apakah
ini semua rahmat Allah?
Apabila
ini semua bukan rahmat melainkan kemurkaan, maka alangkah anehnya bahwa kita
sebagai orang-orang Muslim mendapatkan kemurkaan Allah? Kita semua orang-orang
Muslim, tetapi kita berkubang dalam lumpur kehinaan! Kita semua orang-orang
Muslim, tetapi kita hidup sebagai budak-budak! Situasi seperti ini kelihatannya
betul-betul impossible, seperti tidak mungkinnya suatu benda dalam waktu
yang sama berwarna hitam dan putih.
Jika
seorang Muslim adalah seorang yang dicintai Allah, bagaimana mungkin hidup
terhina di dunia ini? Apabila kita percaya bahwa balasan keta’atan kepada Allah
tidak mungkin berupa kehinaan, maka kita semua harus mengakui bahwa ada sesuatu
yang salah dalam pengakuan kita sebagai seorang Muslim.
Allah
mengirimkan KitabNya kepada kita, hingga dengan membacanya kita dapat mengenalNya
dan tahu cara-cara untuk menjadi hambaNya yang ta’at. Apakah kita pernah mencoba
untuk mengetahui apa yang tertulis dalam Kitab itu? Allah mengutus RasulNya
kepada kita untuk mengajari kita cara menjadi seorang Muslim. Apakah kita pernah
mencoba mengetahui apa yang diajarkan oleh utusanNya itu? Allah menunjukkan kepada
kita jalan untuk memperoleh kehormatan dan kemuliaan di dunia ini dan di akhirat
nanti. Apakah kita sudah meniti jalan tersebut? Allah dengan jelas memberitahukan
kepada kita perbuatan-perbuatan yang dapat merendahkan kedudukan manusia di
dunia dan di akhirat. Apakah perbuatan-perbuatan tersebut sudah kita hindari?
Jawapan apa yang dapat kita berikan kepada pertanyaan-pertanyaan itu?
Bila
kita menyadari bahwa kita tidak mempunyai pengetahuan dari Kitab Allah dan sunnah
Nabi saw dan tidak pula mengikuti jalan yang ditunjukkan olehNya, maka
bagaimana kita boleh disebut orang-orang Muslim yang layak menerima rahmatNya?
Tidak
ada perbedaan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, kecuali dengan pengetahuan
dan perbuatannya! Apabila pengetahuan dan perbuatan seorang Muslim sama dengan
pengetahuan dan perbuatan seorang kafir, sedangkan dia menyebut dirinya seorang
Muslim, maka ucapannya itu adalah dusta yang tidak tahu malu.
Orang
kafir tidak suka membaca al-Qur’an dan tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya.
Apabila seorang yang mengaku Muslim keadaannya juga demikian, bagaimana ia
dapat disebut seorang Muslim? Orang kafir tidak mengetahui apa yang diajarkan
oleh Rasulullah saw dan jalan lurus yang telah diwarisinya. Apabila seorang
yang mengaku dirinya Muslim sama bodohnya seperti ini, bagaimana ia boleh
disebut seorang Muslim? Orang kafir hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri,
bukan perintah Allah. Apabila seorang yang mengaku Muslim sama seperti ini,
keras-kepala, mengacuhkan Allah, dan menuhankan kemauannya sendiri, maka
bagaimana ia mempunyai hak untuk menyebut dirinya seorang Muslim? Orang kafir
tidak membedakan antara yang halal dan yang haram, dan mengambil apa saja yang
menguntungkan dan menyenangkan baginya, tanpa mempedulikan batasan-batasan Allah.
Apabila seorang Muslim tingkah-lakunya sama seperti itu, apa bedanya dia dengan
seorang kafir?
Ringkasannya,
apabila pengetahuan seorang Muslim tentang Islam sama bodohnya dengan
pengetahuan seorang kafir tentang Islam, dan ia melakukan perbuatan-perbuatan
yang dilakukan seorang kafir, maka bagaimana ia dapat dianggap lebih tinggi
kedudukannya daripada seorang kafir? Ini adalah masalah yang harus kita
renungkan dalam-dalam dan dengan keadaan yang tenang.
Ikhwan wa akhwat fillah!
Janganlah
kalian mengira bahwa saya mau men’cap’ orang-orang Muslim sebagai orang-orang
kafir. Tidak, bukan begitu maksud saya. Saya hanya mengajak saudara-saudara
untuk berfikir dan merenungkan mengapa kita semua tidak memperoleh rahmat
Allah. Mengapa kita menjadi korban bencana dari segala penjuru? Mengapa mereka
yang kita sebut orang-orang kafir, yakni orang-orang yang membangkang
kepadaNya, di mana-mana menguasai kita? Dan mengapa kita, yang menyatakan diri
sebagai seorang Muslim, ditindas dan dijajah orang di mana-mana?
Keinginan
untuk memperoleh kembali harta yang hilang akan timbul, bila seseorang menyadari
apa yang telah hilang dari tangannya dan betapa bernilainya harta yang hilang
itu. Sesungguhnya kita dahulu pernah memiliki suatu harta yang tidak ternilai
harganya, yang kemudian hilang dari tangan kita. Maka inilah saatnya kita
berfikir dan bertindak untuk memperoleh harta itu kembali!
Dan siapakah orang-orang yang akan menolong Agama Allah?